Aku hanyalah orang biasa yang lalai dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah, kerudung pun masih tutup buka, kepada orang tua pun masih berani membantah perkataannya, mengaji Al-Qur’an pun masih terbata-bata yang jauh dari kata sempurna.
Malam itu aku sangat kesal tanpa sebab, aku rasa semuanya telah pergi dari kehidupanku, dan yang lebih parahnya lagi aku meniadakan Allah, aku merasa tidak ada siapa-siapa dalam hidup ini, padahal Allah selalu bersamaku di setiap garis, ruang, dan waktu. Aku menangis tanpa henti sampai mataku sembab, karena air mata yang keluar bagaikan hujan lebat yang tiada henti, ironi hidup menjadi sebuah bukti bahwa kehidupan ini fana yang sering membuat semua insan terlena.
Di setiap hariku, aku hanya mencari aktivitas menyibukan diri dengan menyeduh teh hangat, jajan keluar, jalan bersama teman, pergi ke tempat yang rame-rame dan yang lainnya. Keresahan itu memang hilang saat aku menyibukkan diri, tetapi hanya sesaat!. Hingga aku terus di gentayangi dengan keresahan dan kekesalan
Tak lama aku ingat bahwa Allah akan memberikan apa pun, asal kita mau meminta dengan sungguh, dan bukankah Allah berjanji "Ingatlah kepada-Ku, niscaya ingat (pula) kepadamu..." (QS. Al-Baqarah: 152). Aku terbangun di sepertiga malam dan aku merasakan getaran-getaran yang berbeda di setiap malam ku, aku mengambil air wudu dan aku melaksanakan solat tahajud. Aku rendahkan diri sedalam lautan di hadapan Allah, aku melangitkan doa kepada Allah, aku mengadu segalanya kepada Allah, pundakku tak diam dan air mata terus berderai, aku mencurahkan segala isi hati dari getaran-getaran palung jiwa terdalam. Aku tersungkur dalam doa dan tersingkir dari keresahan, dan aku merasakan kenyamanan setelah mendekatkan diri kepada sang Kholik yaitu Allah SWT. Dan diam-diam aku mulai mencintai sepertiga malam dengan perlahan, dan aku sadar dengan melibatkan Allah semuanya akan menjadi yang terbaik meski kita harus kecewa karena kenyataan tidak sesuai dengan keinginan kita, tapi kita harus percaya bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik untuk seorang hambanya. Insyaaloh, Wallahu a'lam bisshowab.
Rabbi... Dzolamtu nafsi, faghfirliii..
Rabu, 01 Agustus 2018
Diam-diam mencintai malam
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar